SISTEM PENILAIAN PADA PROSES
PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA
Penilaian atau assessment merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran.
Penilaian meliputi pengumpulan informasi melalui berbagai teknik penilaian dan
membuat keputusan berdasar hasil penilaian tersebut.
Penilaian memberi informasi pada
guru tentang prestasi siswa terkait dengan tujuan pembelajaran. Dengan
informasi ini, guru membuat keputusan berdasar hasil penilaian mengenai apa
yang harus dilakukan untuk meningkatkan metode pembelajaran dan memperkuat
proses belajar siswa. Penilaian mengukur seberapa jauh pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang telah dicapai oleh siswa. Selain melengkapi proses belajar
mengajar, penilaian juga memberi umpan balik formatif dan sumatif pada guru,
siswa, sekolah dan orang tua siswa.
Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil
belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan
posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), semua aspek penilaian meliputi
: pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA; keterampilan dan proses;
dan karakter dan sikap (sikap ilmiah). Sehingga peserta didik betul-betul
mendapatkan kesempatan untuk belajar IPA.
Agar penilaian terhadap pembelajaran
IPA di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap
kualitas sekolah dan siswa di negeri ini harus berjuang bersama-sama untuk
mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy). Orang yang mampu
melakukan penilaian (assessment literates) adalah mereka yang memahami prinsip
dasar penilaian. Pemahaman akan makna penilaian yang baik saja tidaklah cukup.
Kita juga harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas
pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang
seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standar yang ditetapkan, dan
saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini
A. Pengertian Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian
kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses
dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan (Trianto, 2010). Dalam istilah
asingnya, penilaian adalah evaluation dan diperoleh kata indonesia
evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih
dahulu). Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan
pengukuran.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat
kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap seseuatu
dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi
meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan menilai. Sedang Pengertian penilaian berdasarkan peraturan MENDIKNAS Nomor 20
Tahun2007 Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta
didik.
Penilaian hasil belajar peserta
didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara
nasional. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang
berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar
peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.
B.
Tujuan Penilaian
Tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal:
a) Penilaian
berfungsi selektif
Dengan mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk
mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.
Penilaian itu sendiri mempunayai berbagai tujuan., antara lain:
·
Untuk
memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
·
Untuk
memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya
·
Untuk
memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
·
Untuk
memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebaliknya.
b)
Penilaian
berfungsi diagnostik
Dengan mengadakan penilaian, sebernya guru mengadakan
diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelmahan-kelmahanya. Dengan
diketahui sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
c)
Penilaian berfungsi
sebagai penempatan
Sistem yang baru yangkini banyak dipopulerkan dinegara
barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan
cara mempelajari sebuah paket belajar, baik berbentuk moul maupun paket belajar
yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan
yang besar terhadap kemapuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah
membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila
disesuaiakan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi diesebabkan karena
keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual
kadang-kadang sukar seali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani
perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok . untuk dapat menentukan
dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunkan untuk
penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan
berada alam kelompok yang sama dalam belajar.
d)
Penilaian
berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui
sejauhmana suatu program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian
sebelum ini, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor
guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.
C.
Aspek
Penilaian
Tujuan IPA
adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA,
menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini
sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di
bawah:
1. Penilaian
Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian
Keterampilan dan Proses
3. Penilaian
karakter dan sikap (sikap ilmiah)
Penjelasan
ketiga jenis penilaian tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Penilaian
Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian pengetahuan IPA merupakan
produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan
peserta didik terhadap fakta,konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya
dalamkehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan pemahamannyatersebut
untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, danmenanggapi isu-isu
lokal dan global.
2. Penilaian
Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap
produk, tetapi juga proses.Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan
proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat
awal. Keterampilanproses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan
pengukuran,menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di
samping itu,peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan
percobaansederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis
tentanghubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan
hasilbelajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi,
tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses
ilmiah, berikut adalahenam keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk peserta
didik.
a. Observasi
Penilaian keterampilan melakukan
observasi dinilai pada saat melakukanobservasi dalam rangka memperoleh data
hasil penginderaan terhadap objek dan fenomena alam menggunakan panca indera.
Informasi yang diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu, pertanyaan, interpretasi,
dan investigasi.
b.
Komunikasi
Keterampilan berkomunikasi secara
ilmiah menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan grafik, carta, peta,
simbol, diangram, rumus matematis, dan demonstrasi visual, baik secara tertulis
maupun lisan.
c.
Klasifikasi
Keterampilan melakukan klasifikasi
diperlukan untuk mengelompokkan berbagaiobjek untuk mempermudah mempelajarinya,
berdasarkan persamaan,perbedaan, dan saling keterkaitan obyek.
d.
Pengukuran
Keterampilan melakukan pengukuran
menggunakan alat ukur standar untukmelakukan observasi secara kuantitatif,
membandingkan, dan mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikannya secara
efektif. Alat pengukuran meliputi penggaris,meteran, neraca, gelas ukur,
termometer, pH meter, Higrometer, dan sebagainya.
e. Inferensi
Keterampilan melakukan interpretasi
dan menjelaskan kejadian di sekitar kita.Kemampuan ini dibutuhkan antara lain
untuk menyusun hipotesis. Interpretasimenghubungkan pengalaman lampau dengan
apa yang sedang dilihat.
f. Prediksi
Keterampilan melakukan prediksi
ditentukan oleh observasi yang teliti daninferensi untuk memprediksi apa yang
akan terjadi untuk menentukan reaksi yangtepat terhadap lingkungan.
g. Percobaan
Sederhana
Keterampilan melakukan percobaan
diawali dengan kemampuan menyusunpertanyaan,mengidentifikasi variabel,
mengemukakan hipotesis, mengidentifikasi variabel kontrol, membuat desain
percobaan, melakukan percobaan,mengumpulkan data, dan interpretasi data.
3. Penilaian
sikap
Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap obyektif,
terbuka, tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet,
tekun, dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerjasama, bertukar
pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya
dapat juga dilakukanmelalui pembelajaran IPA
D. Teknik dan Instrumen Penilaian
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
sebagai berikut:
a. Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri,
penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik
dan jurnal. Instrumen yang digunakan
untuk observasi,penilaian diri,dan penilaian
antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (ratingscale) yang disertai rubrik,
sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
Observasi
merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera,baik
secara langsungmaupun
tidak langsung dengan menggunakan
pedoman observasi yang berisi sejumlahindikator perilaku yang diamati.
Penilaian
diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan
dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi.
Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
Penilaian antar peserta didik merupakan teknik
penilaian dengan caramemintapesertadidikuntuk salingmenilaiterkaitdengan
pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan
berupa lembar penilaianantarpeserta didik.
Jurnal
merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi
hasil pengamatan tentang kekuatan dan
kelemahan peserta didik yang berkaitan
dengan sikap dan perilaku.
b. Penilaian Kompetensi
Pengetahuan
Pendidik menilai kompetensi
pengetahuan melalui tes tulis,
tes lisan, dan penugasan.
·
Instrumen tes
tulis berupa soal pilihan ganda,isian,jawaban
singkat, benar-salah, menjodohkan,
dan uraian .Instrumen uraian dilengkapi
pedoman penskoran.
·
Instrumen tes
lisan berupa
daftar pertanyaan.
·
Instrumen
penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c. Penilaian
Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu
penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi
tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio.Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating
scale) yang dilengkapirubrik.
·
Tes praktik
adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu
aktivitasatau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
·
Projek
adalah tugas-tugas belajar (learningtasks)
yang meliputi kegiatan perancangan,
pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
·
Penilaian
portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan
cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu
yang bersifat reflektif-integratif untuk
mengetahui minat,
perkembangan, prestasi, tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan
kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
E.
Syarat
menyusun alat penilaian
Membuat
pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes/pertanyaan merupakan alat
untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima
pengajaran dari guru/pengajar di sekolah. Alat evaluasi yang salah, akan
menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu
teknik penyusunan alat evaluasi penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil
yang objektif.
Beberapa syarat
dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah:
1.
Harus
menetapkan dulu segi-segi apa yang akan dinilai, sehingga betul-betul
terbatas serta dapat memberi petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi
tersebut dapat kita nilai.
2.
Harus
menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya taraf
ketetapan dan ketetapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
3.
Penilaian
harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
4.
Hasil
penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat
ditafsir berdasarkan kriteria yang berlaku.
5.
Alat
evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat
dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.
F. Prinsip Penilaian
1.
Sahih
Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi
yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi
dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat
yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
2.
Objektif
Berati penilaian berbasis pada
standar (prosedur daan kriteria yang jelas) dan tidak dipengaruhi faktor
subjektivitas penilai. Agar penilaian objektif, seorang guru harus berupaya
secara optimal untuk memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dari
sejumlah penilaian dan membuat keputusan yang adil tentang
penguasaan kompetensi peserta didk dengan mempertimbangkan hasil kerja peserta
didik.
3.
Terpadu
Berarti penilaian oleh pendidik
dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan
untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan
harian, ulangan tengah semester dan ujian kenaikan kelas.
4.
Ekonomis
Berati penilaian yang efesien dan
efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya.
5.
Transparan
Berarti prosedur penilaian yang
efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya serta dapat
diketahui oleh semua pihak yang berkepantingan.
6.
Akuntabel
Berati penilaian dapat
dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk
aspek teknik, prosedur dan hasilnya.
7.
Sistematis
Berarti penilaian dilakukan secara
berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8.
Beracuan
kriteria
Penilaian hasil belajar oleh guru
didasarkan pada standar penilaian dan ukuran pencapain kompetensi yang telah
ditetapkan.
9.
Menyeluruh/kmprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan
menggunakan berbagai macam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensiatau
kemampuan peserta didik sehingga tergampar kemampuan peserta didik.
10.
Mendidik
Penilaian dilakukan untuk
memperbaiki proses prmbelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar
bagi peserta didik.
G. Standar Penilaian Pendidikan Ipa
Penilaian pembelajaran IPA di
sekolah hendaknya mengacu pada suatu standar yang ditetapkan baik secara
nasional maupun internasional. National Research Council dalam National
Committee on Science Education Standards and Assessment (1996), telah
menetapkan National Science Education Standards (NSES), suatu standar
bagi pendidik dalam menilai pendidikan IPA di semua level pendidikan. Standar
nasional pendidikan IPA versi NRC ini berisi standar konten IPA, standar
pedagogi dalam mengajar IPA, standar profesi, standar program,
standar asesmen, dan standar sistem. Mutu pendidikan
IPA yang baik, harusmemenuhi semua standar tersebut.
Penilaian standar memberikan kriteria untuk menilai kemajuan menuju visi pendidikan IPA pada
literasi sains untuk semua. Standar yang menggambarkan
kualitas praktek penilaian yang digunakan oleh guru dan lembaga
pemerintah untuk mengukur prestasi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
belajar IPA. Panduan untuk mengembangkan penilaian, praktek, dan kebijakan.
Standar ini dapat diterapkan untuk penilaian siswa, guru, program formatif dan
sumatif, dan penilaian eksternal. Sebagai mekanisme umpan balik utama dalam
sistem pendidikan sains.
Latar
belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan
masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang
dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan
kriteria untuk menentukan kualitas praktik-pratik penilaian.
Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai berikut:
1. Konsistensi penilaian dengan
suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2. Penilaian prestasi dan kesempatan
untuk belajar sains
3. Mencocokkan antara kualitas
teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu dilakukan
berbasis data tersebut
4. Kejujuran dalam praktik
penilaian
5. Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan
penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan
untuk belajar.
Dalam visi yang dijelaskan oleh National
Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama
dalam sistem pendidikan sains. Standar penilaian menyediakan siswa dengan
umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan
balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik
tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan
balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya
merangsang perubahan kebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan
mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
2.7.2. Perubahan Fokus Standar Penilaian
Berdasarkan National Science Education Standard in
the United States (National Research Council, 1996) perubahan
fokus yang terjadi pada standar penilaian adalah sebagai berikut
Tabel 2.1 Perubahan Fokus Standar Penilaian
|
Hal yang Dikurangi
|
Hal yang Diutamakan
|
|
Menilai yang mudah diukur
|
Menilai yang paling berharga
|
|
Menilai
pengetahuan yang memiliki
ciri
yang jelas
|
Menilai
pengetahuan yang kaya
dan
berstruktur baik
|
|
Menilai pengetahuan yang bersifat ilmiah
|
Menilai pemahaman dan pemikiran
Ilmiah
|
|
Menilai
untuk mempelajari apa
yang
tidak dipahami siswa
|
Menilai
untuk mempelajari apa
yang
dipahami siswa
|
|
Hanya melakukan penilaian atas pencapaian
|
Menilai pencapaian dan peluang untuk belajar
|
|
Penilaian akhir dilakukan oleh guru
|
Siswa terlibat dalam penilaian yang
sedang berlangsung
atas hasil kerjanya dan hasil kerja temannya
|
|
Pengembangan
penilaian eksternal hanya oleh ahli
|
Guru
terlibat dalam pengembangan penilaian eksternal
|
Proses penilaian adalah alat yang
efektif untuk mengkomunikasikan harapan sistem pendidikan IPA untuk
semua pihak yang terkait dengan pendidikan IPA. Praktek penilaian dan kebijakan
memberikan definisi operasional apa yang penting untuk dilakukan.
Misalnya, penggunaan dari proses penyelidikan/inquiri untuk
penilaian tugas siswa dari apa yang sedang dipelajari, bagaimana guru
mengajar, dan dimana sumber daya yang harus dialokasikan.
Penilaian adalah sistematis, proses
tahapan yang melibatkan pengumpulan dan interpretasi data pendidikan. Standar
penilaian meliputi empat komponen dapat dikombinasikan dalam berbagai cara.
Misalnya, guru menggunakan data prestasi siswa untuk merencanakan dan
memodifikasi praktik pengajaran. Berbagai kegunaan, pengguna, metode, dan data
berkontribusi terhadap kompleksitas dan pentingnya penilaian proses.
H. Rubik dan Contoh Penilaian
Menurut Abdul Majid (2013) Rubrik
penilaian merupakan kunci penskoran yang menggambarkan berbagai tingkat
kualitas kemampuan dari yang sempurna sampai yang kurang untuk menilai
satu tugas , keterampilan proyek, esai , laporan penelitian atau kinerja
spesifik.
Rubrik merupakan
panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang diinginkan guru dalam
menilai atau memberi tingkatan dari hasil pekerjaan siswa Rubrik perlu
memuat daftar karakteristik yang diinginkan yang perlu ditunjukkan dalam suatu
pekerjaan siswa disertai dengan panduan untuk mengevaluasi masing-masing
karakteristik tersebut.
Rubrik merupakan pedoman kerja untuk
siswa dan guru. Idealnya rubrik diberikan kepada siswa sebelum tugas dilakukan
agar siswa memahami kriteria yang digunakan untuk menilai hasil kerja mereka.
Menurut Abdul Majid (2013)
Keuntungan yang dapat diperoleh bila guru menggunakan rubrik diantaranya :
1. Guru dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dengan fokus, penekanan, dan perhatian pada
rincian tertentu sebagai modal pengetahuan untuk siswa
2. Siswa
mempunyai pedoman yang jelas mengenai apa yang diharapkan guru
3. Siswa dapat
menggunakan rubrik sebagai alat untuk mengembangkan kemampuannya
4. Guru dapat
menggunakan kembali rubrik tersebut untuk berbagai kegiatan berikutnya
yang sejenis.
Menurut
Abdul Majid (2013) Contoh Rubrik Laporan Percobaan (Karya siswa )
Rubrik
Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas
: VII
Materi
Pelajaran :Ciri-Ciri
Makhluk Hidup
|
Kriteria
|
Sempurna
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
Skor
|
|
4
|
3
|
2
|
1
|
||
|
Tujuan
|
Ditulis
dengan rinci, Terkait erat dengan topik yang ditugaskan
|
Ditulis
dengan kalimat baku, terkait dengan tugas yang ditugaskan
|
Ditulis kurang
fokus, kalimat tidak baku, sebagian tidak terkait dengan topik yang
ditugaskan
|
Ditulis
Kurang spesifik, Kalimat tidak baku, tidak terkati dengan topik yang
ditugaskan
|
|
|
Alat dan
Bahan
|
Mencantumkan
semua alat dan bahan yang di perlukan percobaan
|
Mencantumkan
sebagian besar alat dan bahan yang di perlukan percobaan
|
Mencantumkan
sebagian kecil alat dan bahan yang di perlukan percobaan
|
Tidak
Mencantumkan alat dan bahan yang di perlukan percobaan
|
|
|
Langkah
Kegiatan
|
Langkah kegiatan
lengkap, urut dan rinci
|
Langkah
kegiatan lengkap, dan urut
|
Langkah
kegiatan tidak lengkap, dan tidak urut
|
Tidak
Langkah kegiatan
|
|
|
Data dan
analisis Data
|
Data di
tabulasi secara logis dan dianalisis dengan tepat dan rinci
|
Data di
tabulasi secara logis dan dianalisis dengan tepat
|
Data di
tabulasi sembarangan dan dianalisis kurang tepat
|
Data tidak
tabulasi secara logis dan tidak dianalisis
|
|
|
Kesimpulan
|
Ditulis
berdasarkan hasil analisis dan akurat
|
Ditulis
berdasarkan analisis
|
Ditulis
tidak berdasarkan hasil analisis
|
Tidak ada
kesimpulan
|
Contoh
Penilaian Laporan Percobaan (Karya siswa )
Mata
Pelajaran :
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Kelas
: VII
Materi
Pelajaran :Ciri-Ciri
Makhluk Hidup
Judul
: Hasil Laporan Mengamati Petumbuhan Tumbuhan Kacang
Hijau
|
No
|
Nama
|
Kriteria
|
Skor
|
Prediket
|
|||||||||||||||||||
|
Tujuan
|
Alat Dan Bahan
|
Langkah Kegiatan
|
Data dan
Analisis Data
|
Kesimpulan
|
|||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
|
1
|
Susi
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
90
|
SB
|
|||||||||||||||
|
2
|
Andi
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
50
|
K
|
|||||||||||||||
|
3
|
Riri
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
70
|
B
|
|||||||||||||||
|
4
|
Dst
|
||||||||||||||||||||||
Keterangan
1. Skor
maksimal = jumlah sikap yang dinilai x jumlah kriteria. Dari
contoh di atas skor maksimal = 4 x 5 = 20
2. Nilai
= (jumlah skor perolehan :
skor maksimal) x 100
= 18/20 x 100 = 90
3. Nilai
dikualifikasikan menjadi predikat sebagai berikut:
SB = Sangat Baik = 80 – 100
B = Baik = 70 – 79
C = Cukup = 60 - 69
K = Kurang = < 60
Rubrik
Penilaian :
Rubrik
Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas
: VII
Materi
Pelajaran : Asam dan Basa
|
No
|
Kriteria
|
Skor (1-4)
|
|
1
|
Prosedur
kerja
·
Jika
selalu melakukan percobaan sesuai dengan prosedur kerja yang benar
·
Jika
Kadang siswa banyak bekerja sama kadang tidak bekerja sama
·
Jika hanya
melakukan sedikit prosedur yang benar
·
Jika tidak
melakukan sesuai dengan prosedur
|
4
3
2
1
|
|
2
|
Ketepatan
memilih alat dan bahan
·
Jika
selalu memilih alat dan bahan yang tepat sesuai dengan petunjuk kerjanya
·
Jika
sebagian besar memilih alat dan bahan dengan tepat sesuai dengan petunjuk
kerja
·
Jika hanya
sedikit saja yang tepat dalam memilih alat dan bahan yang sesuai dengan
petunjuk kerja
·
Jika
pemilihan alat dan bahan tidak tepat sama sekali
|
4
3
2
1
|
|
3
|
Pengamatan
·
Mengamati
semua variabel dan mendapatkan data yang tepat
·
Jika
sebagaian variabel diamati namun hasil tidak tepat
·
Jika hanya
sedikit variabel yang diamati dan hasil kurang tepat
·
Jika tidak
melakukan pengamatan
|
4
3
2
1
|
|
4
|
Penyusunan
laporan
·
Jika
laporan disusun dengan sistematis dan tepat kesimpulanya
·
Jika
laporan dibuat dengan sistematis namun kesimpulan kurang tepat
·
Jika
laporan dibuat kurang sistematis dan kesimpulan kurang tepat
·
Jika hasil
laporan tidak sistematis dan tidak tidak tepat
|
4
3
2
1
|
Contoh
Penilaian Percobaan
Mata
Pelajaran :
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Judul
: Percobaan Mengidentifikasi Asam dan Basa
Kelas
: VII
|
No
|
Nama
|
Prosedur Kerja
|
Ketepatan
memilih alat dan bahan
|
Pengamatan
|
Penyusunan
laporan
|
Skor
|
Prediket
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
|
1
|
Susi
|
√
|
√
|
√
|
√
|
87,5
|
SB
|
||||||||||||
|
2
|
Andi
|
√
|
√
|
√
|
√
|
62,5
|
C
|
||||||||||||
|
3
|
Riri
|
√
|
√
|
√
|
√
|
81,25
|
SB
|
||||||||||||
|
4
|
Dst
|
||||||||||||||||||
Keterangan
1. Skor
maksimal = jumlah sikap yang dinilai x jumlah kriteria. Dari
contoh di atas skor maksimal = 4 x 4 = 16
2. Nilai
= (jumlah skor perolehan :
skor maksimal) x 100
= 10/16 x 100 = 62,5
3. Nilai dikualifikasikan
menjadi predikat sebagai berikut:
SB = Sangat Baik = 80 – 100
B = Baik = 70 – 79
C = Cukup = 60 - 69
K = Kurang = < 60
MARI KITA DISKUSIKAN:
1.
Penilaian biasanya di lakukan oleh guru. Bagaimana dengan penilaian oleh
teman sebaya? Bisakah itu diterapkan? Bagaimana caranya?
2.
Apakah hasil akhir dari sebuah penilaian harus selalu baik? Bagaimana jika
tidak?
3.
Pada proses pembelajaran yang paling susah untuk di nilai adalah nilai
afektif dan psikomotor. Bagaimana pendapat Anda untuk melaksanakan penilaian
yang terbaik pada kedua penilaian itu?
Daftar Pustaka
Cahyanto, I. 2016. Bentuk Penilaian Hasil Belajar. WWW.academia.edu/5129154/Bentuk_Penilaian_Hasil_Belajar.
Diakses tanggal 13 September 2016
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Sistem
Penilaian KTSP. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA
Kuswanto, H. (2008). Penilaian
Pembelajaran IPA. [online]. Diakses dari
staff.uny.ac.id/sites/.../PENILAIAN%20PEMBELAJARAN%20IPA_0.pdf
National Research Council. (1996). National
Science Education Standards. Washington D.C. : The National Academies Press
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66
Tahun 2013 tentang Standar Penilaian pendidikan
Stiggins, R.J. (1994). Student- Centered Classroom
Assessment. New York : Macmillan College Publishing Company
Sumber : PERATURANMENTERIPENDIDIKANDANKEBUDAYAAN
REPUBLIKINDONESIA
NOMOR 66TAHUN2013
TENTANG STANDARPENILAIANPENDIDIKAN
Uno, B
Hamzah.2013.Assesment Pembelajaran.Jakarta:Bumi Aksara
Assalamu alaikum...
BalasHapusBaik saya akan menjawab point yang ke 2, tidak, penilaian merupakan hasil belajar yang nantinya akan dievaluasi
Saya setuju dengan pendapat saudari humairah .. penilaian tak selalu baik tp akan tetap di evaluasi pd akhirnya .
HapusWaalaikumsalam
BalasHapusJadi bagaimanakah posisi tingkat kesalahan dalam menilai jika terjadi ketidakberhasilan?
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatu
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan nomor 1
Penilaian antar tantdilakukan sebagai penunjang penilaian sikap
saya setuju dengan pendapat novrina erika, penilaian teman sebaya aebagai penunjang penilaian sikap, apakah temannya aktif atau tidak selama proses pembelajaran berlangsung
HapusWaalaikumsalam warohmatullahi wa barokatu, jadi apabila kita melakukan penilaian yg dilakukan oleh teman berapa persenkah bobot penilaian itu dibandingkan keseluruhan penilaian?
HapusTerimakasih masukannya ibu Reni, sepertinya penilaian teman sebaya ini akan sangat membantu guru untuk menghindari penilaian subjektifitas
HapusKita dapat melakuakn penilaian dua faktor diatas pada saat proses pembelajaran dikelas, keseharian peserta didik pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar, ataupun keaktifanya di kelas. Hal tsb bisa dibuat oleh guru dlm bntuk rubrik penilaian sikap maupun keterampilan, sehingga guru bs lbh mudah dalam proses evaluasi. Terimakasih.
BalasHapusTerimakasih pak Ihwan atas pendapatnya.
HapusTetapi dalam real d kelas, saya sangat kesulitan utk bisa melaksanakannya karena jam belajar yg pendek, penilaian yg cukup banyak dan harus mengejar penejlasan materi. Adakah mungkin saran bapak untuk hal itu?
Saya sangat setuju sekali dg pernyataan yg diberikan oleh saudara ihwan, saya ingin menambahkan sedikit tentang point 3, alangkah baiknya penilaian siswa dg menggunakan penilaian autentik dimana penilaian autentik itu merupakan suatu proses pengumpulan , pelaporan dan
BalasHapuspenggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip
penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten.
Adapun Tujuan penilaian autentik:
(1) perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai
dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian,
(2) pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif,
efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan
(3) pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif, Penilaian autentik mencakup tiga ranah hasil belajar yaitu ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Intinya penilaian autentik adalah penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian proyek. Penilaian autentik adakalanya disebut penilaian responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri
khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Penilaian autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. Penilaian autentik sering
digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek.
Terimakasih pak ronny atas masukannya. Apakah bapak sudah sering menggunakan penilaian autentik? Apakah ada kendala?
Hapuspertanyaan no 1 penilaian antar teman mungkin siperlukan guru sebgai penunjang penialain sikap. sedangkan penilaian psikomotor dan kognitif harus memerlukan instrumen tertentu
BalasHapusTerimakasih tanggapannya ya saudara bestia. Psikomotor saya rasa juga bisa dilakukan dengan teman sebaya
HapusYaitu penilaian dgn menggunakan rubrik penskoran. Dgn menggunakan rubrik akan mempermudah guru dlm menilai sikap dan psikomotor
BalasHapusTerimakasih saudara selvi. Adakah tips cara membuat penskoran yang baik?
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang hasil akhir dari sebuah penilaian harus selalu baik tentulah tidak karena tergantung dari keberhasilan guru dalam mengajar sehingga siswa menunjukkan hasil yang baik setelah pembelajaran berlangsung.
BalasHapusTerimakasih komentarnya saudara rahayu.
HapusWah tapi itu bukan berarti salah gurubseutuhnya ya, mungkin saja ada faktor lain yg perlu diperhatikan
Menjawab soal nomor 1 penilaian yang di lakukan oleh yeman itu di namakan peer assesment baikk di lakukan karna di tuntut untuk jujur...mmm caranya bisa di lakukan dengan kertas folio dimana di sana sudah teryera poin (skala likers) oleh guru baru lah bisa di terapkan
BalasHapusTerimakasih sarannya bu laila.
HapusBaiknya dalam penggunaan skala likers yg 4 atau 5 skala ya?
hasil penilaian tidak harus semua baik, karena penilain tdk hanya dapat dinilai hanya karena aspek kognitif, namun dapat di bantu dengan penilaian efektif dan psikomotor
BalasHapusTerimakasih masukannya saudara enti.
HapusSaya juga sependapat, jadi bila kognitif anak buruk bukan berarti dia bodoh atau tidak paham, bisa jadi dia memiliki sikap dan psikomotor yg bagus
Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanghapi pertanyaan no 2.akah hasil akhir dari sebuah penilaian harus selalu baik? Bagaimana jika tidak? Tidak harus selalu baik. Karena penilain tidak bisa dipaksakan atau direkayasa harus transparan. jika belum baik dievaluasi lagi dimana kekurangannya dan mencari solusi bagaimana cara melengkapi kekurangan itu. Terima kasih
BalasHapusTerimakasih masukannya saudara rohana.
HapusTapi dilapangan saya sering melihat guru2 yg menaikkan nilai anak,bagaimana menurut ibu? Bukankah itu merupakan tindak ketidak jujuran?
untuk penilain teman sebaya bisa dilakukan dengan cara menggunakan rubrik perskoran dan membutuhkan seorang pendidik dalam melakukan penilaian tersebut
BalasHapus"membutuhkan seorang pendidik" di sini maksudnya guru?
HapusBaiklah menurut saya hasil penilaian tidak harus semuanya baik, karena penilaian tidak hanya dapat dinilai hanya karena aspek kognitif saja tapi juga dapat dilihat dari aspek efektif dan psimotornya . Sehingga bagi siswa/i yg memiliki nilai rendah bukan berarti dia bodoh atau tidak bisa. Terimakasih
BalasHapusTerimakasih untuk tambahannya bu
HapusSya sependapat dng saudari novia yg mengatakan penilaian tdk hanya dinilai dri aspek kognitif sja tetapi bisa dilihat dri segi afektif dan psikomotor krn anak yg pintar blm tentu sikapnya baik dan sebaliknya anak yg kurng pintar blm tentu sikapnya tdk baik
BalasHapusYa, itu benar sekali bu. Kognitif baik belum tentu semua baik
HapusBaik saya akan menjawab point yang ke 2, tidak, penilaian merupakan hasil belajar yang nantinya akan dievaluasi
BalasHapusTerimakasih tanggapannya dek wilda
Hapus