Selasa, 18 September 2018

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
            Pada era globalisasi yang terjadi pada abad 21 banyak perkembangan yang terjadi dari berbagai aspek, seperti: teknologi, pendidikan, kesehatan, cara berpikir, sosial antar manusia dan banyak yang lainnya.
John Naisbitt seperti dikutip Deliar Noerdan Iskandar Alisyahbana(1988:355), telah terjadi perubahan sepuluh arah dalam menghadapi abad 21 yaitu :
1.      Peralihan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi.
2.      Peralihan darai teknologi yang dipaksakan kepada teknologi tinggi dan sentuhan tinggi.
3.      Peralihan dari ekonomi nasional menuju ekonomi dunia.
4.      Peralihan dari perencanaan jangka pendek menuju perencanaan jangka panjang.
5.      Dari sentralisasi ke desentralisasi.
6.      Dari bantuan institusional menuju bantuan individual.
7.      Dari demokrasi perwakilan menuju ke demokrasi partisipatoris .
8.      Peralihan dari hirarki-hirarki menuju pada penjaringan (network)
9.      Peralihan dari utara menuju selatan.
10.  Peralihan dari satu pilihan kepada pilihan majemuk.

A.    Sistem Pembelajaran Sains Abad 21
Dalam menghadapi globalisasi abad 21 maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains) adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan pengetahuan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013 semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA.
Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan. 
Pengembangan kurikulum 2013 dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mata pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai partisipasi penuh di masyarakat.
Pengembangan kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari KBK dan KTSP. Karakteristik kurikulum 2013 dijelaskan melalui table berikut.
No
KTSP
Kurikulum 2013
1.
Standar Kopetensi lulusan diturunkan dari standar isi
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan
2.
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran (standar kompetensi lulusan mata pelajaran) yang dirinci menjadi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
Standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
3.
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan.
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan
5
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang diharapkan
6.
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran yang terpisah.
Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.
Sumber : Mendikbud 2013.
Pembelajaran IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thingking skill) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada taksonomi bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku dan aplikasi sesuai dengan yang dikemukakan oleh yager (1996:3-4).
B.     Manajemen sistem pendidikan abad 21
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:  (1) instruction should be student-centered; (2) education should be collaborative;  (3) learning should have context; dan (4) schools should be integrated with society.
Keempat prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
    1.      Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2. Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3. Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4. Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab.
Tony Wagner dalam bukunya The Global Achievement Gap (2000) menyebutkan tujuh keterampilan yang harus dimiliki oleh para peserta didik di abad 21, yaitu:
1.      Critical Thinking and Problem Solving
2.      Collaboration Across Networks and Leading by Influence
3.      Agility and Adaptability
4.      Initiative and Entrepreneurialism
5.      Effective Oral and Written Communication
6.      Accessing and Analyzing Information
7.      Curiosity and Imagination
C.    Karakteristik Pembelajaran Abad 21
Karakteristik pembelajaran abad 21 ini menjadi penting untuk diketahui oleh para guru dan orang tua supaya dapat mengetahu bagaimana cara/teknik memfasilitasi pembelajarannya.
Cara/teknik pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran abad 21 ini meliputi:
1.      Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
2.      Multi interaksi dalam proses pendidikan,
3.      Lingkungan belajar yang lebih luas,
4.      Peserta didik aktif menyelidiki dalam proses belajar,
5.      Apa yang dipelajari kontekstual dengan anak,
6.      Pembelajaran berbasis tim,
7.      Objek yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak,
8.      Semua indera anak didayagunakan dalam proses belajar,
9.      Menggunakan multimedia (khususnya ICT),
10.  Hubungan guru dengan siswa adalah kerjasama untuk belajar bersama,
11.  Peserta didik belajar sesuai dengan kebutuhan individual, sehingga layanan pembelajaran lebih individual juga,
12.  Kesadaran jamak (bukan individual),
13.  Multi displin,
14.  Otonomi dan kepercayaan,
15.  Mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis,
16.  Guru dan siswa sama-sama saling belajar.
(Sumber: dikembangkan dari “Paradigma Pendidikan Abad 21”, BSNP, 2010).

Ada beberapa masalah yang ingin saya diskusikan dengan para pembaca 

1.      Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa.
Apakah menurut Anda standar isi pembelajaran IPA ini untuk 20 tahun ke depan dapat mencapai tujuannya yaitu karakter siswa? 

2.    Pada abad ke 21 ada perubahan kurikulum yang dilakukan di Indonesia yaitu dari KTSP ke K13. Dimana ada perubahan semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti tiap kelas. Bagaimana pendapat kalian tentang perubahan ini? 

3.      Dengan era globalisasi perkembangan teknologi sangat pesat sehingga bisa memberikan dampak baik dan buruk didalam penggunaannya. Bagaimana menurut Anda cara menggunakan internet agar tepat guna untuk peserta didik?
Sumber:

Rabu, 12 September 2018

Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif


Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif

           
 Ada berbagai macam model pembelajaran yang digunakan oleh guru-guru kontemporer, ada yang selalu memperbaharui model dan ada pula yang tetap sama (no change). Berikut kita akan membahas 2 model pembelajaran, yaitu Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif.

A.    Model Pembelajaran Kontekstual

1.      Pengertian

Menurut Ngalimun (2013) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka dan negoisasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret dan suasana menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa; siswa melakukan dan mengalami; tidak hanya menonton dan mencatat; dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

2.      Indikator

Ada 7 indikator pembelajaran kontekstual sebagai pembeda dengan model lainnya, yaitu:

·       Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu dan contoh)

·         Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri dan generalisasi)

·         Learning Community (seluruh siswa berpartisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on hands-on, mencoba dan mengerjakan)

·         Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi dan menemukan)

·         Constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis)

·         Reflection (review, rangkuman dan tindak lanjut)

·         Authentic Assesment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktivitas siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).



3.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual

v  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja   sendiri,   menemukan   sendiri   dan   mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

v  Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.

v  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

v  Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)

v  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

v  Lakukan refleksi di akhir penemuan.

v  Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara



B.     Model Pembelajaran Kolaboratif

1.      Pengertian

Gokhale mendifinisikan bahwa Collaborative Learning adalah metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama. Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, bekerja dalan bagian satu tim dan didalamnya bercampur satu kelompok menuju keberhasilan bersama.

Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama tanpa membedakan.

Lalu apa yang membedakan Model Pembelajaran Kolaboratif dan Model Pembelajaran Kooperatif???

2.      Tujuan Model Pembelajaran Kolaboratif

Tujuan dari pembelajaran kolaboratif, yaitu:

·         Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.

·         Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi dan bersuasana kerjasama.

·         Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.

·         Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.

·         Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.

·         Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.

·         Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.

·         Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa; dan di antara siswa dan guru.

·         Membangun semangat belajar.



3.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Kolaboratif

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:

v  Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.

v  Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi dan menulis

v  Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemonstrasikan, meneliti, menganalisis dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas.

v  Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.

v  Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.

v  Laporan siswa terhadap tugas.

v  Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya dan didiskusikan.



So,mari kita diskusikan hal-hal berikut:

 bagaimana cara menentukan model pembelajaran yang tepat?

 kapan kita perlu menggunakan model-model pembelajaran ini?

Dimanakah posisi guru dalam proses model pembelajaran ini?

Apa  model pembelajaran yang kalian gunakan sekarang?

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin: Aswaja Pressindo.

https://www.duniapembelajaran.com/2014/07/model-pembelajaran-kontekstual.html

https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/