PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Pada era globalisasi yang terjadi
pada abad 21 banyak perkembangan yang terjadi dari berbagai aspek, seperti:
teknologi, pendidikan, kesehatan, cara berpikir, sosial antar manusia dan
banyak yang lainnya.
John Naisbitt seperti dikutip Deliar
Noerdan Iskandar Alisyahbana(1988:355), telah terjadi perubahan sepuluh arah
dalam menghadapi abad 21 yaitu :
1. Peralihan
dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi.
2. Peralihan
darai teknologi yang dipaksakan kepada teknologi tinggi dan sentuhan tinggi.
3. Peralihan
dari ekonomi nasional menuju ekonomi dunia.
4. Peralihan
dari perencanaan jangka pendek menuju perencanaan jangka panjang.
5. Dari
sentralisasi ke desentralisasi.
6. Dari bantuan
institusional menuju bantuan individual.
7. Dari
demokrasi perwakilan menuju ke demokrasi partisipatoris .
8. Peralihan
dari hirarki-hirarki menuju pada penjaringan (network)
9. Peralihan
dari utara menuju selatan.
10. Peralihan
dari satu pilihan kepada pilihan majemuk.
A.
Sistem Pembelajaran Sains Abad 21
Dalam menghadapi globalisasi abad 21
maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu
pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus
diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan
penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains) adalah kumpulan
pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan pengetahuan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk
mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu
kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran
paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di
dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013
semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Sebagai salah satu sektor
pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa
untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia
yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang
selalu berubah. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara
optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu
juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA.
Pembelajaran IPA yang didasarkan
pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have
a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki
keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking
skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar
inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical
and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi
artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic
assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya
empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa,
untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar
guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila
siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Pengembangan kurikulum 2013 dapat
menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif
melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan
pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan
dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun
model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam
kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama,
mata pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi
dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus
didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh
para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai partisipasi penuh di
masyarakat.
Pengembangan kurikulum 2013
merupakan penyempurnaan dari KBK dan KTSP. Karakteristik kurikulum 2013
dijelaskan melalui table berikut.
No
|
KTSP
|
Kurikulum 2013
|
1.
|
Standar Kopetensi lulusan diturunkan dari standar
isi
|
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan
|
2.
|
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata
pelajaran (standar kompetensi lulusan mata pelajaran) yang dirinci menjadi
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
|
Standar isi diturunkan dari standar kompetensi
lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
|
3.
|
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap,
pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan.
|
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap
pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan
|
5
|
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
|
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang
diharapkan
|
6.
|
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti
sekumpulan mata pelajaran yang terpisah.
|
Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti
tiap kelas.
|
Sumber : Mendikbud 2013.
Pembelajaran IPA di era abad 21
sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan
pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical
thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan
pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan berpikir yang
dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi
(high order thingking skill) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada
taksonomi bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi.
Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain IPA yang meliputi
domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku dan aplikasi sesuai
dengan yang dikemukakan oleh yager (1996:3-4).
B.
Manajemen
sistem pendidikan abad 21
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu: (1) instruction should be student-centered;
(2) education should be collaborative; (3) learning should
have context; dan (4) schools should be integrated with society.
Keempat prinsip
pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut
dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.
Instruction should be
student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior
knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan
dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan
gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas
proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai
pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam
proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2. Education
should be collaborative
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang
yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali
informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu
dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta
bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga,
sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan
lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling
berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang
telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode
pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3. Learning
should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru
membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang
sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan
dunia nyata.
4. Schools should be integrated with society
Dalam upaya
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa
dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat,
seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk
melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan
kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi.
Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat
tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai
belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang
bertanggung jawab.
Tony Wagner dalam bukunya The Global Achievement Gap (2000)
menyebutkan tujuh keterampilan yang harus dimiliki oleh para peserta didik di
abad 21, yaitu:
1. Critical Thinking and Problem Solving
2. Collaboration Across Networks and Leading by Influence
3. Agility and Adaptability
4. Initiative and Entrepreneurialism
5. Effective Oral and Written Communication
6. Accessing and Analyzing Information
7. Curiosity and Imagination
C.
Karakteristik Pembelajaran
Abad 21
Karakteristik pembelajaran abad
21 ini menjadi penting untuk diketahui oleh para guru dan orang tua supaya
dapat mengetahu bagaimana cara/teknik memfasilitasi pembelajarannya.
Cara/teknik pembelajaran yang
digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran abad 21 ini meliputi:
1. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
2. Multi interaksi dalam proses pendidikan,
3. Lingkungan belajar yang lebih luas,
4. Peserta didik aktif menyelidiki dalam proses belajar,
5. Apa yang dipelajari kontekstual dengan anak,
6. Pembelajaran berbasis tim,
7. Objek yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak,
8. Semua indera anak didayagunakan dalam proses belajar,
9. Menggunakan multimedia (khususnya ICT),
10. Hubungan guru dengan siswa adalah kerjasama untuk belajar
bersama,
11. Peserta didik belajar sesuai dengan kebutuhan individual,
sehingga layanan pembelajaran lebih individual juga,
12. Kesadaran jamak (bukan individual),
13. Multi displin,
14. Otonomi dan kepercayaan,
15. Mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis,
16. Guru dan siswa sama-sama saling belajar.
(Sumber: dikembangkan dari “Paradigma Pendidikan
Abad 21”, BSNP, 2010).
Ada beberapa
masalah yang ingin saya diskusikan dengan para pembaca
1. Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa.
1. Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa.
Apakah
menurut Anda standar isi pembelajaran IPA ini untuk 20 tahun ke depan dapat
mencapai tujuannya yaitu karakter siswa?
2. Pada abad ke 21 ada perubahan kurikulum yang dilakukan di Indonesia yaitu dari KTSP ke K13. Dimana ada perubahan semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti tiap kelas. Bagaimana pendapat kalian tentang perubahan ini?
3. Dengan era globalisasi perkembangan teknologi sangat pesat sehingga bisa memberikan dampak baik dan buruk didalam penggunaannya. Bagaimana menurut Anda cara menggunakan internet agar tepat guna untuk peserta didik?
2. Pada abad ke 21 ada perubahan kurikulum yang dilakukan di Indonesia yaitu dari KTSP ke K13. Dimana ada perubahan semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti tiap kelas. Bagaimana pendapat kalian tentang perubahan ini?
3. Dengan era globalisasi perkembangan teknologi sangat pesat sehingga bisa memberikan dampak baik dan buruk didalam penggunaannya. Bagaimana menurut Anda cara menggunakan internet agar tepat guna untuk peserta didik?
Sumber: