Rabu, 12 September 2018

Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif


Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif

           
 Ada berbagai macam model pembelajaran yang digunakan oleh guru-guru kontemporer, ada yang selalu memperbaharui model dan ada pula yang tetap sama (no change). Berikut kita akan membahas 2 model pembelajaran, yaitu Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif.

A.    Model Pembelajaran Kontekstual

1.      Pengertian

Menurut Ngalimun (2013) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka dan negoisasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret dan suasana menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa; siswa melakukan dan mengalami; tidak hanya menonton dan mencatat; dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

2.      Indikator

Ada 7 indikator pembelajaran kontekstual sebagai pembeda dengan model lainnya, yaitu:

·       Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu dan contoh)

·         Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri dan generalisasi)

·         Learning Community (seluruh siswa berpartisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on hands-on, mencoba dan mengerjakan)

·         Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi dan menemukan)

·         Constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis)

·         Reflection (review, rangkuman dan tindak lanjut)

·         Authentic Assesment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktivitas siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).



3.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual

v  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja   sendiri,   menemukan   sendiri   dan   mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

v  Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.

v  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

v  Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)

v  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

v  Lakukan refleksi di akhir penemuan.

v  Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara



B.     Model Pembelajaran Kolaboratif

1.      Pengertian

Gokhale mendifinisikan bahwa Collaborative Learning adalah metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama. Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, bekerja dalan bagian satu tim dan didalamnya bercampur satu kelompok menuju keberhasilan bersama.

Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama tanpa membedakan.

Lalu apa yang membedakan Model Pembelajaran Kolaboratif dan Model Pembelajaran Kooperatif???

2.      Tujuan Model Pembelajaran Kolaboratif

Tujuan dari pembelajaran kolaboratif, yaitu:

·         Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.

·         Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi dan bersuasana kerjasama.

·         Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.

·         Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.

·         Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.

·         Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.

·         Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.

·         Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa; dan di antara siswa dan guru.

·         Membangun semangat belajar.



3.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Kolaboratif

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:

v  Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.

v  Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi dan menulis

v  Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemonstrasikan, meneliti, menganalisis dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas.

v  Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.

v  Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.

v  Laporan siswa terhadap tugas.

v  Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya dan didiskusikan.



So,mari kita diskusikan hal-hal berikut:

 bagaimana cara menentukan model pembelajaran yang tepat?

 kapan kita perlu menggunakan model-model pembelajaran ini?

Dimanakah posisi guru dalam proses model pembelajaran ini?

Apa  model pembelajaran yang kalian gunakan sekarang?

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin: Aswaja Pressindo.

https://www.duniapembelajaran.com/2014/07/model-pembelajaran-kontekstual.html

https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/


22 komentar:

  1. Baikalah saya akan menanggapi pertanyaan no 3, dimana psosisi seorang guru itu sebagai fasilitator, pengontrol, mengawasi, membimbing dan memberikan inovasi terbarukan supaya siswa tidak mudah jenuh maupun bosan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang menggunakan kedua model diatas tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, terimakasih atas tanggapannya pak roni

      Saya juga mempunyai pemikiran yang sama, dimana setiap penggunaan model pembelajaran baik kontekstual atau kolaboratif guru tetap mempunyai beban kerja yang sama sesuai dgn tujuan dari pembelajaran. Jadi jgn sampai kita salah apersepsinya bahwa menggunakan model itu mempermudah tetapi harus di perhatikan juga prosesnya

      Hapus
  2. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ibuk yang nomor 2 .

    Model pembelajaran kontekstual sangat baik di gunakan pada saat apersepsi dn memberi contoh
    Sedangkan model pembelajaran kolaboratif baik digunakan pada saat berdiskusi. Sekian buk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih tanggapannya bu wilda.

      Jadi bolehkah kita menggunakan kedua2 model ini dalam satu tatap muka? Bagaimana pendapat anda?

      Hapus
  3. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1
    Bagaimana cara menentukan model yg tepat?
    Menurut saya dpt dilihat dr materi yg akan d ajarkan dan kondisi dan jenjang pendidikan. Contohnya pada pergeluruan tinggi cocok digunakan model kolaboratif yg dmn model tsb bersifat kerjasama dlm memecahkan masalah. Terimakasih

    BalasHapus
  4. Pertanyaan nomor satu dan dua sangat menarik, jawaban atas dua pertanyaan ini adalah
    1. memperhatikan karakteristik materi, setiap materi memiliki perbedaan dalam segi prasyarat, kompleksitas, keterkaitan dengan materi lain, kesinambungan , tingkat kesukaran, materi esensial. Sehingga model digunakan untuk materi yang sesuai.
    Pertanyaan nomor 4, saya menggunakan model pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific,. Kolaborasi merupakan salah satu kecakapan abad 21 yang harus dilatih dalam pembelajaran yang dapat menjawab permasalahan dalam kehidupan(pembelajaran bermakna). Sehingga pembelajaran kontekstual dan kolaboratif terintergrasi dalam pembelajaran scientific kurikulum 2013.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bu Novri,

      Wah kalau penggunaan pendekatan scientific di kelas ibu, adakah masalah-masalah yang timbul selama proses pembelajaran?

      Hapus
    2. masalah yang di alami saat pembelajaran adalah mengawasi pelaksanaan praktikum. karena karakteristik siswa yang berbeda maka perlu adanya penguasaan kelas yang baik

      Hapus
  5. Saya mau menanggapi pertanyaan yang "dimanakah posisi guru dlam proses pembelajaran ini"
    Posisi guru adalah pemimpin jalan nya diskusi.

    BalasHapus
  6. posisi guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator

    BalasHapus
  7. saya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang cara menentukan model pembelajaran yang tepat yaitu dengan mempertimbangkkan materi yang diajarakan sebelum menentukan model pembelajaran dan jenjang pendidikan juga sangat di perhatikan.

    BalasHapus
  8. Artikel yang sangat menarik. Menanggapi pertanyaan no 3.dimanakah posisi guru dalam proses model pembelajaran ini? Guru sebagai fasilitator.

    BalasHapus
  9. Assalmu alaikum. Baik saya akan membahas soal nomor 1, saya sangat setuju pendapat di atas, terutama pendapat selvi, cara mencocokkan model, kita harus mengetahui karakteristik materi ajar

    BalasHapus
  10. posisi seorang guru disini hanya lah sebagai fasilitator dan juga sebagai pemimpin jalannya diskusi

    BalasHapus